"Kamu tidak rindu terhadap rindu?”
"Tentu aku rindu, akan rindu”
“ 48 jam adalah waktu yang lama untuk menantikan rindu kembali bertamu”
“ jangankan berjam-jam, jika dia ada selangkah dari pijakan ku, aku sudah terajam rindu”
“Dia siapa? Kau sudah terlalu lama sendiri. Aku heran katanya cinta selalu memilih. Katanya manusia hanya bisa pasrah menunggu. Lalu di mana kah sang cupid berada?
"cupid tertimbun hutan tanda tanya, nanti jarum waktu yang akan menyisirnya dan cinta keluar tanpa diduga”
"asal hati yang menunggu tak skeptis dan menutup, mungkin cinta akan hadir saat airmata bergulir kala bersujud”
"cinta kurasa tidak menunggu air mata, tapi doa dalam sujud akan mewujud nyata dalam paras yang akan kupuja”
“apakah bayangan ideal sang kekasih mulai terkikis rasa sepi? Atau semakin menguat dalam harap yang pekat?
“ sepi cuma mengukir waktu, sepi hanya memperindah masa, hingga dia tiba dan menjalani detik denganku hingga akhir hela”
"masalahnya, siapkah menunggu saat waktu terus berpacu? Masihkah bersabar jika aksara yang indah memudar?”
"Dia memang layak ditunggu. Sabar sudah kujadikan pakaian, aksara yang pudar akan berganti kecup dan pelukan”
"kesepian jadi cambuk yg mendera. Berulang dan menggema. Hati yang teriris sepi, akan mendingin dan mati. Di mana hangat menanti?”
"hangat itu menjelma di sela jemarinya. Saat kita bertautan nanti, sepi akan menisankan diri. Itu pasti”
“ otak bisa berimajinasi, hati bisa terus berdelusi. Ketika realita menyapa, menghindar dan berkelit sudah sia-sia. Apakah cinta?”
“ketika aku terlalu banyak tanda tanya, itu bukan cinta. Tenang saja. Otak dan hati sedang menyiapkan diri, Tuhan dan alam sedang berdiskusi, tentangnya, untukku”
“ketika semua lenyap tak tersisa. Satu-satunya yg tertinggal hanya tanda tanya. Hati-hati, nanti hatimu terjebak di labirin hati!”
“di labirin hati nantinya aku dan dia akan bersembunyi, tenang saja, saat semua melenyap, dia aku telah menyatu dalam abu”
“aku ingin melihat binar di matamu. Bukan binar pedih, tapi binar serupa mentari menari di atas buih. Indah, karena cinta. Bisa?”
“Bisa. Saat matanya menyengat jantung & senyumnya menjemput hatiku. Dari 8 arah mata angin. Soroti aku, yang bercahaya karna cinta”
"Kau terlalu nyaman berselimut sepi. Hanya sesekali mengintip, lalu mundur lagi. Hanya berbicara cinta, takut mengalaminya”
“aku hanya berhati hati dengan hati. Karena sekali aku remuk lagi, waktu tak akan sanggup mengobatiku lagi.
“dibalik sakit yang merepih hati, bukankah cinta pernah terasa indah? Lalu mengapa harus takut dengan sakit yang mungkin mendera?
“sakit yang pernah aku dera, hampir membuat aku mati rasa. Biar kupulihkan walau menelan sepi, dia akan datang menaklukkan takut ini”
( KR)





0 komentar:
Posting Komentar