Rabu, 28 September 2011

Belajar Partitur

Kecambah
Notasi musik yang sering disebut kecambah itu susah dipelajari, paling tidak ada tiga hal yang mesti ditaklukkan tentang notasi: (1) Menerjemahkan notasi musik menjadi nada; (2) Mencari letak nada itu di alat musik; (3) Dua hal di atas harus dilakukan dalam waktu yang sangat sempit karena segera disusul oleh nada yang lain. Bayangkan not-not 1/16 itu harus dimainkan dengan kecepatan 130 beat (Contoh: Turkish March, Wolfgang A. Mozart).
Tangga Nada Dasar Baru
Berapa jumlah nada dasar yang Anda kuasai? Saya hanya menguasai sedikit sekali tangga nada yang biasa saya mainkan. Nada C natural dan beberapa nada sharp seperti G (1#), D (2#), A (3#), E (4#), dan satu nada flat, yaitu F (1b). Kalau Glenn Fredly atau Yovie Widianto biasa membuat lagu-lagunya berprogresi naik satu setengah (misalnya dari C naik ke D#), jelas saya sudah pasti tidak bisa memainkannya sampai habis tanpa bantuan orang lain.
Partitur membuat (atau memaksa) kita belajar tangga nada baru yang sama sekali belum pernah kita mainkan. Clair de Lune-nya C. Debussy memaksa kita bermain di tangga nada 5 flat atau di D flat (Db). Atau Piano Sonate op. 13 “Pathetique” dari Ludwig van Beethoven, mengharuskan kita bermain di tangga nada 4 flat atau di A flat (Ab). Sangat jarang ditemukan karya-karya komponis besar musik klasik itu memakai tangga nada natural C.
Mengapa tidak dikonversi ke C saja biar mudah? Atau bagi yang memakai keyboard, mengapa tidak ditranspose saja? Konversi ke nada dasar C akan merusak esensi keseluruhan dari sebuah komposisi, khususnya komposisi musik klasik. Boleh percaya boleh tidak, tetapi para komponis itu memang memilih nada dasar yang sejiwa dengan musik yang mereka tulis. Saya pernah mencoba memainkan Clair de Lune di tangga nada C dan langsung kehilangan unsur magis dibandingkan ketika dimainkan di nada aslinya: D flat.
Fitur transpose menurut saya adalah teknologi yang lebih banyak mudharat-nya daripada manfaatnya. Transpose akan menghilangkan esensi belajar karena kita tidak akan pernah tahu tangga nada selain C. Lagipula, transpose akan berbahaya jika memainkan banyak lagu: lupa mengembalikan! Waktu awal-awal saya belajar piano, ketika asyik ber-jam session sore-sore dengan kawan-kawan sekantor, saya melakukan transpose untuk menyesuaikan dengan suara vokalis. Di lagu berikutnya, kawan saya yang pegang bass memarahi saya karena tiba-tiba suara keyboard saya fals. Ternyata saya lupa mengembalikan posisi transpose keyboard, he he he…
Pola Baru
Playing by ear biasanya menggunakan pola ritmik yang sama yang biasa kita mainkan dan kuasai. Misalnya, saya biasa memainkan pola bas berjalan 1-5-1-2-3 ajaran mahaguru Stenly untuk piano pop. Kalau baca partitur, setiap lagu memiliki pola ritmik yang berbeda-beda. Minuet-nya JS. Bach membuat jari kiri bekerja keras karena basnya terus berjalan. Dengan memperoleh pengetahuan baru tentang pola-pola musik, secara tak sadar itu akan meningkatkan skill playing by ear.

0 komentar:

Posting Komentar